Tampilkan postingan dengan label Virtual Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Virtual Education. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2010

Virtual Education

Abstract

Virtual education refers to instruction in a learning environment where teacher and student are separated by time or space, or both, and the teacher provides course content through course management applications, multimedia resources, the Internet, videoconferencing, etc. Students receive the content and communicate with the teacher via the same technologies.[1]

Introduction

Characteristics of virtual education

Virtual education is a term describing online education using the Internet. This term is primarily used in higher education where so-called Virtual Universities have been established.

Virtual courses – a synonym is online courses – are courses delivered on the Internet. "Virtual" is used here to characterize the fact that the course is not taught in a classroom face-to-face but through some substitute mode that can be associated with classroom teaching.

A virtual program (or a virtual course of studies) is a study program in which all courses or at least a significant portion of the courses are virtual courses.

Instruction modes for virtual education

Many virtual study programs are mainly text based, using HTML, PowerPoint, or PDF documents. Multimedia technologies have been investigated for many years and eventually found their way into practice. Today a wide spectrum of instruction modes is available, including the following:

  • Virtual Classroom: A virtual classroom is a learning environment created in the virtual space. The objectives of a virtual classroom are to improve access to advanced educational experiences by allowing students and instructors to participate in remote learning communities using personal computers; and to improve the quality and effectiveness of education by using the computer to support a collaborative learning process. The explosion of the knowledge age has changed the context of what is learnt and how it is learnt – the concept of virtual classrooms is a manifestation of this knowledge revolution.
  • Hypertext courses: Structured course material is used as in a conventional distance education program. However, all material is provided electronically and can be viewed with a browser. Hyperlinks connect text, multimedia parts and exercises in a meaningful way.
  • Video-based courses are like face-to-face classroom courses, with a lecturer speaking and Powerpoint slides or online examples used for illustration. Video-streaming technologies is used. Students watch the video by means of freeware or plug-ins (e.g. Windows Media Player, RealPlayer).
  • Audio-based courses are similar but instead of moving pictures only the sound track of the lecturer is provided. Often the course pages are enhanced with a text transcription of the lecture.
  • Animated courses: Enriching text-oriented or audio-based course material by animations is generally a good way of making the content and its appearance more interesting. Animations are created using Macromedia Flash or similar technologies.
  • Web-supported textbook courses are based on specific textbooks. Students read and reflect the chapters by themselves. Review questions, topics for discussion, exercises, case studies, etc. are given chapterwise on a website and discussed with the lecturer. Class meetings may be held to discuss matters in a chatroom, for example.[2]
  • Peer-to-peer courses are courses taught "on-demand" and without a prepared curriculum. A new field of online education has emerged in 2007 through new online education platforms.

Communication and Interaction

Students in virtual education typically acquire knowledge in a uni-directional manner first (e.g. by studying a video, reading a textbook chapter). Subsequent discussions of problems, solving exercises, case studies, review questions, etc. help the students to understand better what they learned before. Electronic media like a discussion forum, chat room, voice mail, e-mail, etc. are often employed for communication.

Homework assignments are normally submitted electronically, e.g. as an attachment to an e-mail. When help is needed, lecturers, tutors, or fellow students, or a help desk are available, just like in a real university. The difference is that all communication goes via electronic media.

Platforms

Most virtual study programs use an e-learning platform (learning management system – LMS) to administer students and courses and to provide learning content. Examples of such systems are WebCT, Moodle, eFront and ATutor; there are also propriotary e-learning platforms like Tooling University.

  • Second Life has recently become a virtual classroom for major colleges and universities, including Princeton, Rice University, University of Derby (UK), Vassar, the Open University (UK),[3]. In 2007 Second Life started to be used for foreign language tuition [4]. Both Second Life and real life language educators have begun to use the virtual world for language tuition. English (as a foreign language) has gained a presence through several schools, including the British Council], which has focused on the Teen Grid. Spain’s language and cultural institute, the Instituto Cervantes has an island on Second Life.[5] A list of educational projects (including some language schools) in Second Life can be found on the SimTeach site.[6]
  • WebEx is also increasingly used as an online learning platform and classroom for a diverse set of education providers such as Fox School of Business for Templer University, Grades Grow, Minnesota State Colleges and Universities, and Sachem.[7] Webex is a Cisco Web Meetings and Collaboration Solution.[8] The platform has worked for educational institutions because of real time collaboration using an interactive whiteboard, chat, and VOIP technology that allows audio and video sharing. In distance learning situations, while replacing the classroom with features, institutions have also looked for security features which are inherently strong in a Cisco powered collaboration environment. The downside is that Webex is not a free platform.
Sources:

1. Wikipedia
2. http://banjarcyberschool.blogspot.com/2008/01/cyber-school-di-kota-banjar-suatu.html

Senin, 18 Mei 2009

Tips Mengimplementasikan E-Learning

10 Tips Mengimplementasikan E-Learning



Untuk menambah kelengkapan informasi tentang e-learning, berikut kutipan pendapat seorang pakar dari Inggris, Jane Knight. Beliau adalah pendiri e-Learning Centre, suatu lembaga konsultasi independen tentang e-learning, sekaligus editor situs

http://www.e-learningcentre.co.uk.

Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan bagi siapa saja yang ingin mengimplementasikan e-learning didalam organisasi. Bacalah petunjuk dibawah ini :

[1] E-learning lebih dari sekedar e-training. Banyak pelatihan di organisasi di masa lalu yang mengambil pola pelatihan dalam bentuk sangat formal yang disebut kursus, Adapun kini, banyak orang sudah mengetahui bahwa sekitar 70% proses pembelajaran berlangsung di lingkungan informal organisasi, semisal tidak dalam ruang kelas atau ketika bekerja melalui kursus online, namun sesungguhnya dalam aktivitas kerja sehari-hari, para pekerja membawa pulang pekerjaan mereka dan mencari informasi, membaca dokumen, berbicara dengan kolega mereka, dan sebagainya. Itulah sebentuk aktivitas pembelajaran informal yang perlu didukung dan diperkuat melalui fasilitas yang online. Oleh karena itu, e-learning tidak hanya e-training, melainkan juga mengenai informasi, komunikasi, kolaborasi, dukungan kinerja dan berbagi pengetahuan.

[2] "Quick n Dirty Works", Kompleks, rumit, interaktif, instruksional, banyak biaya untuk multimedia e-learning, waktu yang lama untuk membangun, dan kemungkinan perangkat komputer yang sudah tidak up-to-date dengan perkembangan terakhir. Dalam banyak kasus, solusi termudah adalah adanya respon yang cepat dari pengelola, termasuk penyediaan kebutuhan pembelajaran

[3] Komunikasi dan kolaborasi adalah kuncinya. Jangan lupa bahwa pembelajaran adalah suatu aktivitas sosial, dan terkadang anda akan lebih Powerfullatau menjadi lebih tenang ketika mengikuti proses pembelajaran yang melibatkan sekian banyak komunitas online dan jaringan, dan dengan memperkuat kolaborasi diantara para pembelajar dimana kita dapat saling bertukar bahan. Yakinkan diri anda bahwa anda memang menyediakan peluang dan kesempatan bagi banyak orang untuk komunikasi, berkolaborasi dan berbagi pengetahuan.

[4] The magic is in the mix, Banyak solusi pembelajaran formal terkadang bekerja ketika mereka dikombinasikan (campuran) dengan hal-hal tradisional, yaitu aktivitas face-to-face, untuk membentuk solusi campuran. Cara ini akan memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih lengkap dan bervariasi bagi siapa saja yang perlu bekerja dalam program pembelajaran sepanjang waktu.

[5] Pembelajaran harus diawali dari kebutuhan individu. Coba anda temukan apa yang diperlukan oleh orang banyak tentang kebutuhan mereka untuk belajar tentang pekerjaan mereka dan temukan pula bagaimana, dimana atau kemana dan kapan mereka menginginkan belajar. Lalu, jika sudah, coba rancang solusi pembelajaran yang dapat membantu mereka. Giatkan para pekerja untuk swa-motivasi (self-directed) dalam pembelajaran dan tumbuhkan rasa tanggung jawabnya dan bantulah mereka dalam memahami dan membangun e-learning.

[6] If you build it, they won't necessarily use it. Perhatikan, jangan mentang-mentang anda sudah menciptakan solusi dalam e-learning, lalu anda memaksakan para pembelajar untuk datang beramai-ramai dan menggunakannya. Anda mungkin akan menemui dan harus menanggulangi beberapa hambatan yang datang dari organisasi dan personal, sebelum para pembelajar membeli dan membawa pulang e-learning. Intinya, mereka perlu melihat dan membuktikan e-learning sebagai sesuatu yang membawa keuntungan bagi mereka dan memantapkan langkah mereka dalam belajar.

[7] E-learning harus disesuaikan dengan kondisi organisasi bersangkutan. Ingatlah, tidak ada formula ajaib dalam merancang e-learning dalam sebuah organisasi; anda akan melihat banyak perbedaan di setiap organisasi. Maka, e-learning harus disesuaikan dengan sasaran-sasaran bisnis, budaya organisasi, keinginan-keinginan para pekerja dan gaya belajar setiap individu. Dengan memperhatikan faktor-faktor itu, anda akan dapat merancang solusi e-learning yang paling cocok bagi organisasi anda.

[8] E-learning = solusi bisnis. Suatu strategi e-learning yang dirancang dengan baik sangatlah diperlukan dalam kaitannya dengan sasaran bisnis, semisal peningkatan produktivitas atau penjualan, atau meningkatkan loyalitas konsumen. Banyak organisasi masih begitu concern dengan melatih sekian banyak orang, dan yang menjadi pertanyaan, apakah setiap pekerja yang mengikuti pelatihan itu lulus. Pada akhir pelatihan, tidaklah penting seberapa banyak yang telah dipelajari para pekerja, yang penting justru adalah bagaimana mereka mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari, dan bagaimana kinerja setiap individu dan pada akhirnya, peningkatan kinerja perusahaan. E-learning, sebagaimana pembelajaran itu sendiri, bermakna bagaimana akhir dari sesuatu, tetapi bukan akhir itu sendiri.

[9] Koordinasikan segala upaya e-learning anda. Bagian Human Resources, Teknologi Informasi dan unit-unit bisnis perlu bekerjasama untuk menciptakan suatu lingkungan yang efektif bagi aplikasi e-learning. Banyak organisasi telah menemukan bahwa setiap perbedaan dalam bisnis telah menjadi bahan kompetisi bagi vendor yang berbeda. Untuk itulah diperlukan beberapa pusat pengendali untuk memilih sistem e-learning yang tepat sehingga keputusan yang diambil dapat berguna bagi setiap bagian di dalam organisasi.

[10] Just Do It! Akhirnya, anda harus tahu bahwa banyak organisasi yang menghabiskan waktu hanya untuk merencanakan penggunaan e-learning. Mereka ingin tahu apakah segalanya akan bekerja jika mereka menggunakannya. Nah, nasihat terbaik yang bisa saya berikan adalah :

START SMALL, THINK BIG and GO !!!

Sumber :
1. e-learning
2. http://banjarcyberschool.blogspot.com/2008/02/10-tips-mengimplementasikan-e-learning_01.html

Disusun Ulang Oleh:

Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.

Guru dan Dosen Profesional